“dreet...dreet...dreet...dreet” suara handphone Maya yang bergetar.
“Halo Assalamualaikum Mi, ada apa?” jawab Maya.
“Waalaikumsalam, kamu lagi dimana dek? Ini lo ada program pertukaran pelajar ke Amerika untuk kelas 10. Kamu mau ikut?”tanya Umi.
“yaudah terserah. Hmm, Mi ini mau lanjut bimbel, nanti aja ya kita bahas di rumah”
“okay dek, selamat belajar” sambil Umi menutup teleponnya.
Lalu jam bimbelpun di mulai. Tetapi nampaknya Maya sedang melamun. Ia memikirkan tentang apa yang Uminya katakan tadi. Saat Ia sedang asyik membayangkan tiba-tiba,
“Maya!, nomor 10 tolong dikerjakan di depan” perintah Bu Laila.
“hah? Saya bu, e e e, iya” jawab Maya kebingungan.
Akhirnya Ia mengerjakan soal itu di depan. Ia sangat bingung. Pikirannyapun serasa kosong. Untungnya, Ia dapat mengerjakan soal itu, meskipun sangat lama sekali.
Malam harinya Umi pulang dari kantor. Tiba-tiba memberikan sebuah formulir kepada Maya. Ternyata itu adalah formulir program pertukaran pelajar. Program itu di selenggarakan oleh sebuah lembaga di banyak negara, dan untuk di Indonesia cabangnya di beri nama Bina Antar budaya.
“tolong diisi ya dek, besok kalau sudah kamu sudah isi semua dan memenuhi berkas-berkasnya kasiin Umi, nanti langsung tak kembaliin” kata Umi.
Maya hanya tertegun. Ia langsung menuju kamarnya. Dibuka lembar demi lembar perlahan-lahan. Lalu Ia memegang sebuah bolpen. Bolpen itu di ketuk-ketukan ke meja, diputar-putar, lalu dibuka ditutup, dibuka ditutup, dibuka dan ditutup lagi. Sampai beberapa menit berlalu.
“Braakk...” suara bolpen membentur pintu.
Kedua telapak tangan Maya langsung menutupi mukanya. Ternyata Ia sedang dilanda dilema yang berat. Ia tahu meskipun persyaratan hanya kelas 10 tetapi pesaingnya sangatlah banyak. Yah, dulu Ia pernah mengikuti tes SMPN 1 SBI Sidoarjo dan SMAN 1 SBI Sidoarjo. Tetapi Ia tidak lolos di kedua-duanya. Dari itu Ia merasa bahwa kemampuannya terbatas. Ia merasa takut mencoba seleksi yang serupa. Namun, Formulir itu sudah terpampang jelas di depannya. Disamping itu Ibunya sangat berharap dan menaruh impian yang besar kepada Maya.
“I am so mixed up” ucapnya pelan.
Di sekolah Ia bertemu Putra. Seseorang yang dulunya pernah dekat dan Ia kagumi. Tetapi hal itu seolah di makan gerhana bulan. Sekarang mereka malah saling menghindar. Sesungguhnya di dalam hati Maya, Maya tidak menginginkan itu terjadi. Maya masih ingin berkomunikasi. Meskipun begitu karena sikap Putra yang semakin hari semakin menyebalkan. Setiap bertemu Putra, Maya langsung bad mood.
“duhh, ketemu anak itu lagi, aaarrgh.”ujar Maya
“biasa aja kale mbak, emang kamu diapain sih? Orang kamu ya baik-baik aja.” Jawab Tiara
“ya nggak sih, Cuma tadi tatapannya tadi itu sinis banget. Huh, rasanya pengen pindah Sekolah. Udah nggak betah kalau tiap hari gini.”
“yauda, makanya coba dulu tuh, program pertukaran pelajar. Yang dulu lupain aja, barangkali yang kali ini kamu bisa. Lumayan sebelas bulan di Amrik. Biar jauh-jauh tuh sama tuh orang.” Sahut Tiara.
Maya terdiam sejenak. Ia tersontak akan saran Sahabatnya barusan. Ia memutar kembali mindsetnya. Tiba-tiba tangannya dingin dan berkeringat. Ia bertanya kepada dirinya.
“Apakah aku bisa? Aku? Hah Lupakan! Baiklah aku tidak boleh menyerah. Aku akan buktikan. Aku pantas, aku harus mencoba.” Ujar Maya di dalam hatinya.
Sepulang dari sekolah Ia segera mencari formulir pendaftaran itu. Tanpa ragu lagi Ia mengisinya. Lembar demi lembar tampak sudah hampir terisi penuh. Lalu Ia mencari informasi terbaru seputar program itu di internet. Maya terlihat senyum-senyum sendiri. Ia sudah hampir melupakan masa lalunya.
“Pagi pak...”ujar Maya sambil salim ke Pak Huda.
“Pagi, alhammdullilah...” jawab Pak Huda.
“lho, ada apa pak? Hehe”
“Akhirnya sudah jarang telat, beberapa minggu ini sudah ada kemajuan ya.”
“ohh, hehe. Iya Alhamdullilah, saya ingin berubah Pak.”
Setelah berbincang singkat oleh Pak Huda, Ia berlari menuju kelas. Entah mengapa hari ini Maya sangat bersemangat. Rupanya Ia sudah mendapatkan banyak informasi tentang program pertukaran pelajar itu kemarin. Tesnya terdiri dari dua macam yaitu tes tulis dan tes lisan. Tes tulis yang di berikan berupa tes pengetahuan umum.
Setelah sampai di kelas, napasnya terengah-engah. Namun matanya tetap fokus pada apa yang Ia akan lakukan. Ternyata Ia akan bertanya-tanya kepada teman-temannya. Ia lebih butuh informasi lebih banyak lagi, karena tes pengetahuan umum dirasanya sangatlah sulit. Lalu Ia menghampiri teman-temannya satu persatu, yang dirasa update akan berita.
Maya menghampiri Ilham. Ia bertanya seputar berita politik yang terjadi akhir-akhir ini. Setelah cukup, Maya langsung menghampiri bangku Alfred. Ia bertanya seputar dunia olahraga kepada Alfred, karena Alfred atlet futsal. Meskipun Alfred menjawabnya dengan cerewet, tetapi itu tak masalah. Yang penting Maya mendapat informasi baru lagi. Lalu Ia melangkah dua kali ke depan dan sampai di bangku Made. Made mau berbagi informasi, baik itu dari akademis atau nonakademis.
“Nah, teman-teman udah bantu kamu nih semoga sukses and don’t forget to pray”
“Ia, terimakasih banyak lo Made, danke schon”
“bitte schon”
Akhirnya Maya duduk ke bangkunya. Tak lupa Ia bertanya-tanya kepada sahabatnya yaitu Tiara. Tapi kali ini Maya bertanya seputar bahasa inggris dan seputar wawancara. Tiara sangat fasih sekali berbicara bahasa Inggris. Maya merasa lega dan puas hari ini. Ia merasa sudah siap untuk tes besok.
Tes di selenggarakan di SMP 22 Surabaya. Pesertanya seperti lautan manusia. Layaknya juga audisi Indonesian Idol. Awalnya hal itu seperti mematahkan semangat juang Maya. Tetapi Ia selalu mengingat kata Sahabatnya. Setelah mengantri lama, Peserta diperbolehkan memasuki ruangan yang telah di sediakan. Dan setelah soal di bagikan, alis Maya langsung berkerut.
“Hah? Soal macam apa ini. Kok...” ucap Maya pelan, sambil terus membuka lembaran-lembaran soal tersebut.
Tak beberapa lama kemudian Maya menyandarkan dagunya di atas meja. Soal--soal itu sangatlah sulit. Mata Maya mulai sembab. Ia mengira perjuangannya
“Adek-adek peserta AFS, setelah isoma ini, diharapkan menuju ke aula. Karena tes lisan akan segera di mulai” bunyi dari pengeras suara.
Setelah mendengar suara itu perut Maya terasa sangat sakit. Langkah Maya menuju aula terasa semakin berat. Ia terbayang lagi akan tes yang dulu pernah Ia ikuti. Tiba-tiba tangannya dingin dan berkeringat. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tak ayal Ia merasakan hal seperti ini karena dahulu Ia telah gagal pada tahap wawancara. Dan saat nomor pesertanya di panggil.
Pelan-pelan dibukanya pintu kelas ujian itu. Lalu tak salah lagi, ada tiga penguji yang siap mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan. Dan pada saat itu suasana semakin tegang, seakan menambah rasa trauma di hatinya. Saat penguji pertama bertanya, tiba-tiba pikirannya blank. Tetapi untuk pertanyan berikutnya, Ia dapat menjawab dengan lancar.
“Baaaa....”Tiara dan Andinni mengaggeti Maya di depan pintu kelas X-2.
“Gimana tesnya kemarin, bisa kan?”sahut Tiara.
“Tapi kok mukamu lecek begitu?” tandas Andinni.
“Haduh rekk, aku nggak bisa. Soal pengetahuan umum yang hanya aku tahu hanya satu nomor dari seratus soal, selebihnya pake feeling. Terus, tes wawancara, haduh gara-gara ada tuh bule, aku gak mudeng dengan semua apa yang dia tanyain. Ahh Parah rekk!” jawab Maya
“Apa!” kata Andinni dan Tiara serentak.
Dua minggupun telah berlalu saatnya melihat pengumuman hasil seleksi itu. Maya berjalan menuju warnet di dekat rumahnya. Ia sangat pasrah akan hasil itu. Ia sudah mengerti bila kemungkinan yang paling buruk sekalipun terjadi. Mungkin ini langkahnya yang kesekian kalinya untuk mencapai impian. Tetapi entah, takdir ada di tangan yang Kuasa. Sebelum Ia melihat layar monitor komputer, rasa gugup, khawatir, dan takut hanya itu yang menyelimuti pikirannya. Hingga akhirnya Ia mengklik halaman yang harus dibuka. Dan ternyata...
“100, 234, 254,257. Hah? 257? Nomorku? Benar itu nomorku, Alhamdulillah, Aku tidak percaya. Terimakasih ya Allah, setelah sekian banyak Aku melanggkah, kali ini kau tuntun langkahku menjadi langkah emas” ucap Maya seraya Ia masih tidak percaya.
Ia memberitahukan kabar baik ini langsung kepada Ibunya. Kemudian kepada teman-temannya. Tak lupa Ia membagi kabar ini kepada Fernando Rivas teman Facebooknya di Uruguay. Sangat beruntungnya lagi, Maya di tempatkan di negara Uruguay pula untuk melasksanakan tugasnya sebagai murid pertukaran pelajar, dan Maya mengirim Inbox kepada Fernando.
(Fer, I’m accepted for exchange student. Luckly, I will going to your country. That’s awesome,huh. Just wanna see the real you are. We can talk about your culture, school or whatever. I think it is extraordinary. And the Important, you can continue teach me spanish and if you would I teach you Bahasa Indonesia. Estoy muchas feliz. Well, see ya in Montevideo.)
Tak beberapa lama Fernando pun membalas pesan Maya.
(I’m so glad to hear this news. We chat really much in Facebook, but if we meet, that is very amazing I think. Just take care for your health and condition. You gotta pass a long trip. Estoy esperando por ti chica!!. Mierda, realmente quiero verte tu en Montevideo.)
Setelah melihat balasan pesan dari Fernando hati Maya rasanya tak karuan. Apakah ini benar-benar nyata ataukah hanya mimpi. Senyum yang amat indah Srupanya kembali ke pipi Maya. Tanpa Ia sadari, air mata membasahi pipinya. Lalu Ia sekarang benar-benar mengerti akan pepatah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar